Selasa, 11 Oktober 2011

'Biarkan Saya Menjadi Orang Indonesia'






Malam nanti, Tim Merah Putih akan berjuang melawan Qatar di rumput sendiri dalam laga pertandingan penyisihan group zona Asia. seperti biasa, Stadion Utama Gelora Bung Karno lah yang yang akan dipakai untuk pertandingan.

Saya jelas sekali ingin menyaksikan laga kali ini. meskipun banyak orang yang tidak tertarik lagi, karena Timnas sudah dua kali menelan pil kekalahan pada dua pertandingan terakhir. tapi saya masih akan terus tertarik untuk menyaksikan laga pertandingan ini. karena entah kenapa rasanya Timnas kalah atau menang, tidak masalah bagi saya. Saya hanya ingin menyaksikan perjuangan mereka di lapangan hijau.

tapi keinginan saya untuk selalu menyaksikan setiap laga Timnas sepertinya harus kandas karena dihantam batu peraturan. mungkin anda semua bertanya-tanya "memangnya ada larangan untuk menyaksikan Timnas bertanding?"

saya akan menjawab lewat keterangan berikut,

sekolah saya adalah salah satu sekolah di Jogja City. Sekolah ini adalah sekolah khusus putri yang disertai asrama. Kegiatan belajar mengajarka di tempatkan di sebuah gedung yang biasa saya sebut Madrasah. Ingat satu hal, sekolah saya bukan pesantren. Jadi kami para siswi masih bisa kontak dengan dunia luar.

saya adalah salah satu siswi yang tinggal di asrama. peraturan yang di atas saya sebutkan, ada di dalam asrama. Yaitu, hanya setiap hari kamis dan Jum'at kami diizinkan menyetel televisi. Padahal, sekarang ini hari Selasa. Di tambah lagi sekarang kami sedang menjalani MID Semester. Lengkap sudah penderitaan saya. 

Di sini saya akan menungkapkan kritikan saya untuk sekolah saya tercinta. Seperti judul artikel saya ini, 'Biarkan Saya Menjadi Orang Indonesia'. Saya merasa ketika saya bersekolah di sini, saya dilarang untuk menjadi orang Indonesia pada umumnya. Misalnya, membela Timnas di bidang olahraga (membela di sini dalam artian menonton di TV), atau menonton pawai kedaerahan. 

Saya pernah mendengar seseorang berkata seperti ini, "Gimana si...orang Jogja kok nggak tau budaya Jogja." menurut saya, kata-kata tadi ditujukan untuk kami. Memang benar, karena peraturan di sini tidak boleh keluar asrama pada malam hari. Saya dan kawan-kawan tentunya kecewa. Karena pawai kedaerahan kebanyakan diadakan pada malam hari. Jadi otomatis, kami tidak bisa menyaksikannya.

kembali ke masalah pertandingan Tim Merah Putih, banyak orang Indonesia yang meragukan kemampuan  para pemain karena sudah dua kali pertandingan terakhir, Timnas selalu didera kekalahan. Bahkan, loket penjualan tiket di SUGBK sepi pengunjung. Ini sangat membuktikan bahwa banyak orang meragukan kemampuan para pemain.

Tapi, saya akan tetap membela bangsa saya. Kalah atau menang. karena,

Saya tidak mau durhaka kepada tanah air saya yang telah membesarkan saya dengan tanah dan air yang ada di dalamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar